Skip navigation

Di tivi, kemarin sore, ditayangkan acara tentang pertanian yang menampilkan sosok seorang penggerak pertanian dengan sistem lama yang tidak merusak alam. Namanya Mbah Suko. Tinggal di suatu daerah di Magelang. Beliau menerapkan mina padi, memelihara ikan di sawah yang ditanami padi dalam mengelola lahan pertaniannya. Dengan sistem ini, padi yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan padi hasil panenan konvensional yang, menggunakan beragam pupuk buatan dan pestisida. Ikan-ikan itu bisa berperan sebagai anti-hama alami. Selain itu, ikan yang dipelihara bersama tanaman padi bisa dipanen sewaktu-waktu.

Yang mengesankan saya adalah keberanian Mbah Suko untuk menentang revolusi hijau yang pernah digalakkan pemerintah jaman orde baru. Revolusi hijau adalah revolusi yang dilatarbelakangi oleh keadaan dunia paska kedua perang dunia yang menyisakan kekhawatiran akan kekurangan pangan. Pertanian modern menggusur sektor pertanian tradisional demi  hasil yang lebih banyak. Keberhasilan negeri kita berswasembada beras di tahun 80-an menandakan menjadi tanda keberhasilan revolusi ini. Makanan sebagai kebutuhan mendasar akan selalu dibutuhkan. Kecuali bila nanti ditemukan pil ajaib yang sebutir saja ditelan akan membuat orang kenyang sehari semalam.

Cerita Mbah Suko membawa saya ke suatu peristiwa sekitar dua tahun lalu. Saat itu, di dalam kendaraan antar kota, saya duduk di kursi paling belakang . Teman duduk saya adalah seorang nenek. Meski sudah sepuh, beliau masih enerjik. Kami terlibat dalam obrolan yang cukup seru. Tepatnya, beliaulah yang bercerita lebih banyak. [Saya sangat suka memancing orang yang sudah sepuh untuk bercerita, karena biasanya sangat seru, sementara mereka merasa dihargai] Satu dari sekian banyak hal yang beliau ceritakan adalah sejuk dan menyenangkannya suasana masa kecilnya. Tentang pertanian dan peternakan milik orang tuanya.  Semuanya masih serba  alami. Tanaman jarang rusak oleh hama. Tidak Seperti sekarang saat gagal panen sering menghiasi tivi. Nasi jaman dulu tekstur rasanya berbeda dari nasi jaman sekarang. Yang sekarang lebih hambar, atau bagaimana, pokoknya kalah enak dari yang dulu.

Itu tidak jauh-jauh dari apa yang kadang dikeluhkan oleh nenek saya tentang nasi sekarang yang katanya tidak enak. Nasi sudah tidak berasa nasi. Tempe tidak berasa tempe. Nyaris semua yang berhubungan dengan makanan sudah berubah. Menurun dari sisi rasa.. Pupuk modern yang sedianya dimaksudkan untuk meningkatkan hasil panen, lambat laun mengacaukan keseimbangan alam. Tanaman tidak akan berbuah jika tidak dibantu dengan pupuk penyubur buatan. Penyakit degeneratif semakin banyak bermunculan.

Berita baiknya, di berbagai wilayah banyak petani yang pelan-pelan kembali berusaha mengolah lahan dengan cara yang lebih dekat ke alam. Di daerah saya, pemakaian pupuk organik sudah semakin giat disosialisasikan kepada para petani. Pelan-pelan kesadaran  untuk bersahabat dengan alam itu berkembang. Sesuatu yang menggembirakan. Tapi… lepas dari ancaman pupuk dan pestisida pabrikan, kini masuklah biji-biji/benih hasil rekayasa genetika (GMO) yang, jika merujuk pada banyak riset independen, berdampak sangat-sangat negatif pada makhluk hidup, khususnya manusia. Jadi, kembali kea lam berperan sebagai slogan saja.

Advertisements

One Comment

  1. hidup pertanian Indonesia bersama mina padi,,,
    hee
    http://widicahyani.student.ipb.ac.id/


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: