Skip navigation

Leaving the Illusion adalah sebuah novel realitas yang disebut sebagai pertemuan antara dua novel distopia klasik yang paling berpengaruh, Brave New World dan 1984. Jika anda belum tahu tentang keduanya…

Brave New World mewakili pandangan dunia masa depan saat manusia dikendalikan oleh kesenangan dan kebebasan semu yang melimpah, sampai pada taraf ikatan keluarga adalah sesuatu yang memalukan. Kesenangan yang membuat mereka tidak pernah menyadari kalau sebenarnya mereka hidup tertindas di bawah penguasa yang menjalankan sistem kediktatoran ilmiah. Sementara 1984, menggambarkan sepatu bot yang menginjak muka, pengawasan negara yang tanpa batas kepada warga negaranya sendiri. Penguasa mengendalikan rakyatnya dengan membuat mereka ketakutan.

Leaving the Illusion tidak jauh bersinggungan dengan kenyataan sekarang. Alex, seorang broker yang bangkrut tersapu krisis keuangan 2008, harus tinggal kembali bersama ibunya. Keadaan yang membuatnya serba salah dan malu. Dia berniat mencari uang dengan cara lain, menjadi penulis buku. Menulis memang sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Pengalaman pahitnya membuatnya mengerti jika krisis keuangan itu adalah rekayasa. Suatu hari, dia menerima pesan dari seseorang yang mengaku telah membaca seluruh file di harddisknya dan menginginkan Alex untuk menulis untuknya dengan imbalan yang sangat besar. Meski terkejut luar biasa karena ada yang mencuri baca semua data pribadinya, tawaran itu sangat menggiurkan, apalagi imbalannya sebagian sudah nyata dibayar di muka.

Howard, si pengirim pesan,  memberi segala fasilitas untuk Alex menuliskan buku pesanannya, sekaligus menjadi mentornya. Alex ditarik untuk masuk ke lingkaran dalam kelompok Howard, menjadi bagian dari mereka, untuk hidup di ‘dunia nyata.’ Buku-buku kiriman Howard yang harus dia pelajari adalah pemikiran yang nyata-nyata ditulis orang-orang berpengaruh di dunia, seperti Edward Bernays dan Bertrand Russel. Perang batin untuk menjadi psikopat elit atau rakyat jelata tertuang dalam catatan-catatannya.

Manusia di dunia ini, menurut Howard, terbagi menjadi dua kasta utama, yaitu dominant few dan inferior many. Dominant few terdiri atas kaum elit seperti penguasa bank internasional, penghuni tahta kerajaan, dan manusia-manusia lain yang ada di belakang layar, duduk di puncak piramida kekuasaan. Mereka bergerak tanpa bayangan untuk mengendalikan sistem yang akan melanggengkan kekuasaan.

Berpikir dengan logika kekuatan ala Howard mungkin terasa kontroversial. Saat kekuatan bisa mengalahkan segalanya dan menjadi jalan bagi terwujudnya suatu tujuan. Tujuan membenarkan segala cara, termasuk pembohongan massal. Menciptakan kemiskinan dan kelaparan dengan sengaja? Bukan tidak mungkin. Tapi dari situ juga, kita bisa setidaknya mengerti jika ada manusia yang berpikir dan bertindak sesinting Howard. Misalnya saat bicara tentang hak, moral, dan keadilan. Ketiganya adalah konsep yang bisa jadi hanya  terdapat dalam pikiran, tidak pada kenyataan. Hak dan moral tidak cukup bagi sebagian orang untuk untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Salah satu contohnya, kamp konsentrasi Nazi untuk membunuhi bangsa Yahudi. Hak bangsa Yahudi untuk hidup tidak serta merta membuat mereka selamat. Ketidakberhakan pasukan Hitler melakukan pembersihan bangsa lain tidak lantas membuat mereka menghentikan kekerasan. Moral bisa menjadi pembenaran subyektif bagi masing-masing pihak. Pembunuh massal bisa berdalih jika tindakannya benar, untuk melindungi diri dan kelompoknya misalnya. Perang atau kekerasan hanya akan berhenti jika: penyerang punya belas kasihan untuk menghentikan kekerasan dan atau kekuatan yang terserang untuk mempertahankan diri melebihi kekuatan penyerang. Di situ kekuatan berperan besar. Logika yang sama bisa diterapkan dalam konflik yang terjadi hari ini, seperti pembersihan etnis Rohingya dan Israel yang kembali main gila di Gaza. Bagi kelompok orang seperti Howard, perang bisa menjadi aset yang perlu dipelihara karena mereka diuntungkan. Kemudian mereka memberi solusi (dan ini yang diinginkan banyak orang), misalnya menghentikan perang dan mengadili penjahat perang, yang semuanya sudah mereka rencanakan dan perhitungkan akan memperkuat posisi mereka.

Jika orang seperti Howard tidak ada, mengapa buku-buku seperti Propaganda, The Scientific Outlook, The Grand Chessboard, Eugenics: A Reassessment, Tragedy and Hope, dan teman-temannya yang semuanya membicarakan atau memperingatkan adanya pengondisian sosial atau pengendalian pikiran masyarakat dibuat?

Ini contoh kutipannya:

“The conscious manipulation of the masses is an important element in democratic society. Those who manipulate this unseen mechanism of society constitute an invisible government which is the true ruling power of our country.

We are governed, our minds molded, our tastes formed, our ideas suggested, largely by men we have never heard of.

Whatever attitude one chooses toward this condition, it remains a fact that almost every act of our daily lives, whether in the sphere of politics, or business, in our social conduct or our ethical thinking, we are dominated by the small number of persons who understand the mental processes of the masses. It is they who pull the wires which control the public mind and contrive new ways to guide the world.” (Edward Bernays, Propaganda)

“The world is governed by very different personages from what is imagined by those who are not behind the scenes.” —Benjamin Disraeli—dalam Jim Marrs, Rule by Secrecy.

Membaca bacaan semacam ini memang bisa bikin sinting. Keuntungannya, kita menjadi tidak mudah terlena oleh keadaan. Rasanya seperti membaca tanda-tanda kiamat dalam bahasa yang lain, saat sistem dajjal berkuasa. Sebegitu gelapnya keadaan dunia, akan selalu ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

 

Leaving the Illusion bisa dibaca sebagian di website penulisnya.

Advertisements

Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: