Skip navigation

“When it comes time to die, be not like those whose hearts are filled with the fear of death, so when their time comes they weep and pray for a little more time to live their lives over again in a different way. Sing your death song, and die like a hero going home.”

Chief Aupumut, Mohican. 1725

Saya baru kehilangan tetangga, bibi, nenek, sahabat,  entah bagaimana saya menyebutnya. Sampai saat ini saya rasakan ‘kehadirannya’ seperti tidak pernah hilang. Mungkin itu karena meninggalnya yang tidak terduga. Tidak didahului sakit atau apa-apa yang bisa mengarah pada kematian. Yang berkesan adalah proses kematiannya yang tampak lancar dan damai. Dua hari sebelum meninggal, dia jatuh lemas dan dilarikan ke UGD. Tidak lama berselang keadannya berangsur-angsur pulih.

Selang sehari berikutnya, beliau benar-benar terlihat seperi hari-hari biasa, tidak lagi pucat dan sudah kembali lancar bercerita sana sini sambil berkelakar. Keluarganya berencana untuk membawanya pulang dari rumah sakit esok harinya. Sekitar jam sembilan malam, di tengah beberapa anggota keluarga terdekat, beliau yang disangka tidur ternyata sudah meninggal. Orang-orang yang ada di sekitarnya tidak menyangka sama sekali.

Jika sakaratul maut yang digambarkan sangat-sangat mengerikan sekaligus menyakitkan seakan ditusuk seratus pedang, maka hal itu seperti tidak berpengaruh pada tetangga saya ini. Ada banyak kisah akhir kehidupan yang hebat yang pernah saya dengar atau baca, namun ini salah satu akhir hidup mengesankan yang saya ketahui langsung. Dari pengamatan saya yang sangat terbatas, ada beberapa hal yang sangat mungkin memberi kemudahan pada beliau dalam proses itu.

Setiap manusia tentu punya sisi baik dan (tanpa disadari) buruk dalam hidup. Hanya saja, sisi buruk itu bisa tertutupi oleh sisi kebaikan yang lebih dominan. Nenek ini, kecuali berhalangan misalnya sedang tidak enak badan atau tidak sedang di rumah, selalu sholat berjamaah di masjid dekat rumah, sering membersihkan emperan masjid di depan rumahnya jika ada ayam tetangga yang nyasar terus meninggalkan kotoran di sana, sering membersihkan jalan pintas yang menghubungkan dua jalan besar di desa saya yang terletak di samping dan belakang rumahnya, setiap kali ada orang yang memberinya sesuatu, biasanya makanan, selalu mendoakan si pemberi. Yang tidak akan terlupa adalah beliau selalu nyambung sebagai teman bicara.

Proses kematian yang tidak kentara sakitnya pernah juga terjadi pada seorang tetangga saya yang lain, beberapa tahun sebelumnya. Apa yang diperbuatnya selama hidup sejalan dan mirip dengan tetangga saya yang baru meninggal itu.. pamitnya mau tidur, tapi tahu-tahu sudah enggak ada. Bedanya, beliau pernah merawat suaminya yang terkena stroke parah selama sekitar dua tahun sampai si suami meninggal. Mereka berdua tidak merepotkan anak cucunya.

Jujur saja, jika akhir waktu datang, saya ingin meninggalkan dunia dengan tenang dan  damai. Tidak ingin meradang berkepanjangan dan menyusahkan orang-orang yang ada di sekitar. Karena berkebalikan dari itu, saya pernah menyaksikan sendiri akhir kehidupan seorang tetangga saya yang lain yang tampak sangat tersiksa, sampai perlu waktu sekitar dua minggu. Ada hal buruk yang saya tahu tentangnya yang tidak layak dikemukakan di sini..

Anda pernah menemui peristiwa sejenis?

Advertisements

Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s