Skip navigation

Ia biarkan kaki menjelajah seisi
Istana mini yang ia huni
Berselimut cokelat beledu
Kelabu melajuri punggung
Teringat ia pada suatu rambang malam
Terpikat rayuan bukan kepalang
Bedaru berlari melewatinya
Bersama buraksa bersekutu menjura pada bebintang
Lalu,
Langit tinggal selonjak
Bumi terpaut setombak
Kembara terkalang sudah
Mata hidung lidah memimpi biji kopi
Suatu hari
Kala langit tiada tergapai
Pucuk-pucuk bambu bergumam lirih
Lenamu jadi tebusan
Nyatakan rindu dendam
Membeka ayam-ayam ingusan

Advertisements

9 Comments

  1. Pretty nice post. Aku hanya tersandung pada blog anda dan ingin mengatakan bahawa saya telah benar-benar menikmati browsing posting blog anda. Dalam hal apapun saya akan melanggan suapan anda dan saya berharap anda menulis lagi akan!

    —–
    yes and thanks for dropping by

  2. wah .. harus mikir mikir dulu nih, takut salah mengartikan 😛
    btw, apa kabar ? maaf baru berkunjung kesini 🙂

    • hehehe..bukan maksudku berteka-teki Mbak.

      Alhamdulillah, baiik..
      Ngga apa2 Mbak, saya juga ga nengok blog ini agak lama 🙂

  3. sip.sips..sips..

  4. Yah.., manis sekali mbak. selaksa pemadatan cerita menjadi sebuah puisi yang memiliki kedisiplinan rima.

    Salam karya.

    • terima kasih,
      ini hasil belajar darimu Mas Bayang, salah satunya : ]
      salam karya juga..

  5. nyastra sekali.


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: