Skip navigation

Monthly Archives: October 2012

Don’t ask me where the origin of the word elevenly.  I was tagged by Aan Sigoese to take part in a viral task labeled as ‘The game of tagging’, where eleven is used as the key number to play the game.

Based on its rules, I found this game is similar to The Liebster Award, which I completed last month. It is like a repetition, but I don’t mind. I highly appreciate this tagging game and thanks to you, Mas Aan =) Read More »

Advertisements

Judul yang agak menyesatkan. Ini bukan tentang mantra atau jampi yang berbau mistik beneran. Hanya sepenggal kisah sehari-hari yang mungkin tidak terlalu diperhatikan.

Jadi begini…

Ibu mertua kakak saya yang sudah sepuh, akhir-akhir ini mudah tersulut emosinya, sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Kalau sudah marah, kata-kata yang keluar tidak enak didengar. Sudah tahu begitu, keponakan saya yang usil-usil sering menggodai nenek mereka dengan berbagai cara yang membuat beliau semakin mudah marah.

Untuk meredakan suasana yang memanas itu, caranya cukup mudah. Tinggal dekati si nenek, lalu ucapkan mantra ini, “assalamu’alaikum…” Pasti akan beliau jawab dengan senang hati, “wa’alaikumsalam…” Kondisi rumah pun akan kembali aman terkendali, kerena amarah nenek sontak teredam dan kembali enak kalau diajak bicara.

Lain lagi dengan seorang guru saya yang dulu pernah bercerita tentang rasa marahnya yang tidak jadi tumpah. Sering terjadi, saat beliau hampir memarahi anaknya, anaknya lebih dulu berkata, “Ya Allah, Bapak ki….” Bagaimana mau marah betulan, jika sudah diingatkan nama Tuhan. Amarah yang nyaris meluap berubah bentuk menjadi simpati, begitu kata beliau.

Cara lain untuk meredakan marah, bagi penutur Bahasa Jawa adalah dengan menggunakan bahasa Jawa jenis kromo inggil atau kromo alus saat mengutarakan amarahnya. Dijamin, amarah tidak akan bisa terungkapkan dengan mudah ^^. Apakah ini juga berlaku pada bahasa daerah yang lain, saya tidak tahu.

Ini sekadar pilihan untuk menurunkan ketegangan akibat amarah, selain tentu saja, cara lain semisal mengubah posisi, jika sedang berdiri, lalu duduk, dan seterusnya. Marah itu wajar dan manusiawi, hanya saja yang lebih utama daripada itu adalah mengendalikannya. Anda punya mantra penjinak amarah yang lain?

Apa
Mau menulis apa
Tentang apa
Untuk siapa

Ketika
Bayanganmu sirna
Bidikan mata luncas
Terluput dari telinga
Tak terkejar nalar
Tak teraih khayal

Di sana
Aksara dan angka
Berkejaran menjejali padang leksikal
Menyisakan bayangan
Teringat Sang Bayang
Selalu melayang
Di langit kata tak bertuan
Menabur makna

Bagaimana
Langkah tersandung mendung
Tanya Lang Ling Lung
Penemu ulung
Ramuan pendebar jantung
Pembaca lepas jantung

Apa-apa
Ditulis saja
Rangkaian kata
Bergerak bagai kereta
Mendekati kaki langit senja
Menyapa ribuan mata
Mencoba mengikat makna
Melerai jiwa

Bagi para pemilik peternakan yang melihat gejala hewan piaraan anda sering berkumpul sambil berbisik-bisik di suatu tempat, berhati-hatilah! Mungkin mereka sedang merencanakan cara untuk mengambil alih peternakan anda!

Tentu ini hanya ada dalam cerita.

Binatangisme adalah judul versi Indonesia dari novel lama Animal Farm yang diterjemahkan oleh mendiang bapak Mahbub Djunaedi.  Judul terjemahan versi penerbit lainnya yang muncul belakangan adalah Negara Binatang, Ladang Binatang, juga Peternakan Hewan. Read More »

Halo teman-teman semua, apa kabar?

Dalam sejarah manusia, baru pada masa teknologi informasi berkembang pesat seperti saat ini, kita bisa leluasa mengarungi dua alam yang, pada hal-hal tertentu sangat berbeda.
Mayapada dan mayantara. Jenis alam yang kedua ini yang saya maksudkan belum pernah ada pada zaman para pendahulu kita.

Kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang terjadi di sisi bumi yang lain tanpa terhambat jarak dan waktu. Kita bisa memperkenalkan karya kita secara meluas tanpa perlu menembus ribetnya persyaratan lembaga tertentu, seperti industri penerbitan.

Mayantara memang terasa tanpa batas.
Alam yang mampu mendekatkan yang jauh dan sudah selayaknya memperdekat yang dekat. Kenyataannya, selain bisa memapas jarak, alam ini tidak jarang memperjauh yang dekat. Terkadang kita lebih dahulu tahu atau lebih peduli pada suatu peristiwa di luar sana daripada tetangga sebelah rumah yang sedang sakit. Kita sudah lazim melihat di sudut-sudut pasar, di bangku taman kota, di pojok alun-alun, di dalam bis kota, orang-orang asyik dengan piranti genggam masing-masing. Entah sedang apa atau sedang apa dengan siapa. Pemandangan seperti ini rasanya semakin bertambah banyak dari hari ke hari. [Cmiiw]

Setelah hampir dua pekan blog ini saya telantarkan tanpa pesan tanpa pamitan, saya balik juga. Penyebab penelantaran itu adalah campuran antara kegagalan beruntun dalam mengakses dashboard dan kecepatan koneksi yang maha lemot pada saat itu. Selain itu saya juga ingin mencoba tidak merambah belantara maya untuk beberapa waktu, khususnya blog. Akhirnya tidak tahan juga hidup di satu alam dalam beberapa hari saja.

Jadi, terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung, mohon maaf atas ketelatan saya membalas komentar, juga jalan-jalan ke blog anda.