Skip navigation

Sebenarnya, apa hubungan antara baju minim dan pelecehan seksual?

Kalau sempat menanyakannya ke setiap orang, pasti jawaban akan beragam.

Beberapa bulan lalu, ucapan beberapa pejabat yang menyuarakan etika berpakaian yang ‘tidak mengundang pelecehan’ sempat diperdebatkan.
Yang menentang pasti berujar kalau tidak ada hubungan antara pakaian dan tindak pelecehan. Tubuh milik sendiri, jadi terserah yang memiliki mau diperlakukan seperti apa. Wanita yang menjadi korban pun tidak hanya yang berpakaian minim. Kesetaraan gender kadang juga dibawa serta.

Lepas dari dua sisi yang bertentangan itu, saya rasa urusan berpakaian itu, manfaatnya akan kembali ke diri sendiri.
Berani melakukan sesuatu, semestinya juga berani menanggung apa-apa yang mungkin terjadi. Jangka pendek maupun jangka panjang. Meski tubuh punya sendiri, saat menyaksikan langsung pemandangan yang mencolok mata saya jadi risih dan jeri.

Suatu pagi, di depan toko milik tetangga, saya melihat seorang anak perempuan berdiri di dekat motor yang sedang diparkir. Yang membuat saya memperhatikannya adalah caranya berpakaian. Dia berseragam TK lengkap dengan sepatu dan tas. Yang tidak biasa ya bajunya itu. Cuma sampai sedikiit di bawah pantat. Maka, saat dia bergerak sedikit saja, apa yang ada di baliknya akan terlihat. Ternyata anak itu lagi menunggu ibunya yang sedang belanja.

Reflek saya jadi teringat pada kasus pelecehan anak di bawah umur yang kerap ditayangkan media. Yang kena jerat hukum selalu pelakunya, biasanya laki-laki, dewasa atau belum dewasa. Mereka jelas salah. Hanya saja, dengan melihat kenyataan anak TK seperti tadi jadi terpikir, tidakkah si korban pelecehan, atau setidaknya orang tuanya tanpa sadar punya andil dalam menyukseskan aksi pelaku pelecehan?
Di sekolah cara berpakaiannya seperti itu, bagaimana dengan di rumah? Bagaimana jika itu berlangsung tiap hari dan menjadi kebiasaan nantinya?
Ataukah memang ada orang tua yang beranggapan anaknya masih terlalu hijau untuk mengundang nafsu bejat lelaki tak bertanggung jawab? Tentu pelecehan tidak hanya menimpa perempuan, tapi tetap saja korban dari pihak perempuan lebih banyak.

Saat berhenti dekat lampu merah, di halte bis seberang jalan, seorang wanita muda duduk di situ. Dia menenteng sebuah tas besar dan masih ada satu tas lagi di sebelahnya. Tidak jauh darinya ada seorang bapak-bapak menjadi teman bicaranya, seolah-olah hendak melepas kepergian anaknya. Dugaan saya, gadis itu seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu di luar kota. Lagi-lagi yang membuat saya ternganga ya caranya berpakaian. Setidaknya, di daerah setengah kota setengah desa seperti di tempat saya, itu termasuk pemandangan yang tidak biasa. Punya nyali sekali dengan h4wtpants. Udara siang yang panas mungkin memicunya. Tapi.. seperti itu mau naik kendaraan umum? Mungkin ini cewek sudah sakti dengan menguasai ilmu beladiri.

Mungkin, khususnya bagi laki-laki, pemandangan tadi bisa diibaratkan makanan yang tampak lezat dan menggugah selera. Maka, bagi yang kelaparan dan tidak bisa menahannya, akan langsung disikat. Yang lainnya hanya menelan ludah, lalu bisa saja mencari konten berbau pornografi di internet. Yang lain lagi berpikir lebih jauh dan tidak terpengaruh.

Kalau otak reptil dibiarkan berkuasa, pelecehan sangat mungkin terjadi. Akibatnya bagi korban bisa ringan bisa juga berat. Dari kulit atau perasaan yang lecet-lecet sampai tubuh yang kaku membiru tragis.

*ilustrasi: credit to trevor brown

Advertisements

23 Comments

  1. Nice Bumble Bee! Ann:)))))

    • ow, i’ve just realized that’s called bumble bee..
      thanks Ann 🙂

  2. karena kita punya budaya ketimuran, seharusnya menjaga norma2 tsb 😦

    • iya sih, saya rasa menyadari hal itu perlu, agar kita tidak mudah latah/ikut-ikutan..
      giliran budaya kita diklaim orang, baru nyolot :-S

  3. saya juga tinggal di setengah kota setengah desa. di sini juga sama sering melihat para hawa berpakaian minim, saya dan istri suka merasa lucu dg tingkah mereka, udah tau kaos yg di pake itu minim ya harusnya tau resikonya, inimah malah di tarik tarik ke bawah, di paksa menutupi pinggangnya. ya kalo gak PD pake baju yg panjang aja..

    berpakaian itu hak indipidu masing masing, yang harus di mengerti resiko yang akan dia terima dari cara berpakaianya itu..

    • iya Pak, silakan mengenakan apa aja, tapi ya peduli juga dengan risikonya baik dan tidaknya ^^

      • hehe iya pingin modis tapi gak PD, ya jangan memaksakan ya mbak ?

      • itu kembali ke pemakainya Pak 🙂

  4. Wah.., bagus sekali. Bahkan saya menganggap ini bukan sebuah posting biasa, tapi sebuah perenungan dari sebuah pengamatan.

    Kita dikenal sebagai orang timur mungkin sedang mengalami perkembangan yang entah hendak kemana arahnya. namun bisa juga itu untuk membentuk sebuah peradaban baru.
    Sementara dalam perkembanganya, banyak orang dinegeri ini terlalu menganggap seks atau kata seks begitu tabu untuk dibicarakan secara bebas, bahkan lebih berkesan ditutup-tutupi. Padahal (menurut saya pribadi), pengertian seks tidak seharusnya di tutup-tutupi atau dirahasiakan. malahan, kalau perlu diajarkan disekolah sejak dinipub seperti tak masalah. agar kelak dimasa pubertas mereka lebih mengerti dan siap menghadapi seks itu sendiri.

    Salam.. http://sangbayang.wordpress.com/2012/09/26/kumbang-mengecup-malam/

    • wah.. terima kasih mas Bayang..

      kita seolah berada dalam himpitan dua pihak yg tampak berlawanan ya. saya rasa di situlah kita semestinya punya sejenis filter untuk menerima atau mengesampingkan apa2 yg datang seiring perkembangan zaman, tanpa meninggalkan karakter ketimuran kita yg identik dengan nilai2 yg luhur.

      saya setuju jika pendidikan seks itu sangat penting. soal tabu dan tidaknya, mungkin itu lebih pada kemasannya, cara penyampaiannya. titik tujunya, kalo saya, dengan pemahaman urusan seks yang benar, pada praktiknya orang akan bertanggung jawab pada diri sendiri, lingkungan, dan penciptanya. ^cmiiw^

      • Wah.., habis deh kalau diujungnya berakhir pada Sang Pencipta :mrgreen:

        Sama sama Mbak

      • duh, itu tidak bisa saya hindari karena suka tidak suka, kita kan tinggal numpang di bumi-Nya ^^

      • Iya deh iyah.. 😛

  5. saya setuju sama mbak El. maksudnya, mungkin karena para laki2 disini gak terbiasa atau budayanya gak selalu seperti sekarang. mungkin dulu belum banyak cewek2 berpakaian seksi di tempat umum. tapi baik cewek dan cowok juga harus sama2 menjaga biar gak terjadi masalah pelecehan.

    • ‘baik cewek dan
      cowok juga harus sama2
      menjaga biar gak terjadi
      masalah pelecehan.’

      rasanya, postingan ini bisa diringkas dengan kalimat di atas ^_^

  6. Saya juga prihatin. Tapi, jujur saya akui pakaian yang dikenakan cewek memberikan daya tarik kepada lawan jenisnya. Saya juga takut jika mempunyai pacar dengan pakaian seperti itu, karena saya tau kejahatan itu selalu ada seiring adanya kesempatan. Tetapi, semuanya itu adalah haknya dia. Asalkan dia bersama orang yang dipercaya dan dapat melindunginya mungkin itu gak apa-apa seperti saya contohnya, gkgk.

    • hehe.. ada yang mengaku nih ^_^

      benar juga.. kalo ada kesempatan di depan mata, yang semula baik2 tetap memungkinkan untuk berubah jadi monster.
      saya percaya kamu akan berusaha tetap jadi baik2 kok Tra ^^

      • Makasih. Saya akan konsisten dengan sifat pertama saya, selalu baik. Sayangnya, Jangankan bicara dengan wanita. Didekatnya saja saya gak berani. Laki-laki macam apa saya. Hiks. Curhat dikit.

      • macam apa aja asal tidak macam2 XD

        oh iya, sama-sama Putra..

  7. mungkin lain ladang lain belalang ya, di sini aku jarang menemukan atau membaca kasus pelecehan seksual hanya karena pakaian wanita yg minim … walau banyak sekali pemandangan itu di sini kalau musim panas, nggak ada deh masalah spt itu, apakah ini berarti mental laki laki sana beda sama mental laki laki di sini ? perlukah dikasih kacamata kuda laki laki di sana agar pikirannya tidak spt dalam penggalan paragraf
    ” Mungkin, khususnya bagi laki-laki, pemandangan tadi tidak mengibarat makanan yang tampak lezat dan menggugah selera. Maka, bagi yang kelaparan dan tidak bisa menahannya, akan langsung disikat. Yang lainnya hanya menelan ludah, lalu bisa saja mencari konten berbau pornografi di internet. Yang lain lagi berpikir lebih jauh dan tidak terpengaruh ”

    kenapa kesannya hanya perempuan yang disalahkan dan diwanti wanti harus hati hati, kenapa tidak dipertanyakan mata dan mental laki lakinya ?.

    • nah, itu dia Mbak, beda budaya dan kebiasaan.
      kalo di sini, khususnya cewek yg begitu biasanya akan jadi bahan gunjingan.

      saya rasa, semua kembali ke diri masing2. yang perempuan mau memperhatikan waktu dan tempat dalam berpakaian, dan yang laki2 juga memperkuat mentalnya biar enggak mudah berpikiran gila, apalagi merealisasikannya ^_^

        • Ely Meyer
        • Posted September 27, 2012 at 00:53
        • Permalink

        hmm .. berarti mental laki laki di sana sama di sini beda ya, sayang sekali, mengerikan di sana kalau perempuan keluar harus merasa was was, takut disergap dan lecehkan laki laki yang tak kuat menahan nafsu, hanya karena pakaiannya,

        kenapa mental laki lakinya yang nggak diperbaiki ya ? kenapa di postingan atas terkesan hanya cara perempuan yang disalahkan ? mungkin perlu dibikin postingan tersendiri nih, tentang bagaimana mental laki laki dan pengelolaannya , hingga walau ada perempuan berpakaian minim ada di depannya, dia tak akan berpikir seburuk apalagi melecehkan karena hal itu dilarang agama, dan karena memang tidak diperbolehkan, biar imbang.

      • sebenarnya tidak semua laki2 di sini bermental seperti itu mbak..

        kalo dari pengalaman saya -di luar dua contoh dalam postingan ini-, sudah beberapa kali saya melihat sendiri kalo cewek yg berbaju ‘di bawah normal’ memang lebih mudah mengundang perhatian negatif lelaki, misalnya dilecehkan dengan kata2 yang tidak sopan. selain itu, perilaku juga tidak bisa dikesampingkan. kan kadang ada juga cewek yg meski pakaiannya tidak minim, tapi kata2nya mendayu2 dan manja, yg memungkinkan lawan jenis lebih berani bertindak seenaknya. Cmiiw

        tapi memang saya akui, kalo rajin mengikuti media, terutama tayangan berita kriminalitas di tv seperti ‘patroli’ dan sejenisnya, rasa was2 sedikit banyak akan timbul.
        atau, apakah semua ini cuma isu biasa yg dibesar2kan oleh media?

        saya sendiri ingin bertanya, bagaimana memperkuat mental, khususnya laki2, di zaman sekarang ini. memperkuat hubungan dengan Tuhan yang maha melihat dan maha mendengar, sehingga tidak ada satu pun yang luput dari perhitungan-Nya? ataukah ada cara/tips lain/tambahan yg mungkin lebih konkrit?
        waduh mbak eli, untuk urusan seperti ini, saya punya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban ^^


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: