Skip navigation

Monthly Archives: September 2012

I am aware this sounds depressing
Yet I know this is part of self-healing
Sailing through the ocean of my dream
The rapture of death stare and inaudible scream
Thirteen light years away the only hindrance
Forget.me.not dispersing delusional fragrance
Further than my age
Gravity is a giant cage

No revelation from above

The enigmatic you remains unsolved

Flight back from the Zeta
Are you in clash with space dementia
Take you down the memory hole
A synthetic cure for this weary soul
Won’t it be optimus crime
To clear the brief history of time
Won’t it be deadly serious fun
See you in the cool side of the sun

*pict: Napoleptic

Sebenarnya, apa hubungan antara baju minim dan pelecehan seksual?

Kalau sempat menanyakannya ke setiap orang, pasti jawaban akan beragam.

Beberapa bulan lalu, ucapan beberapa pejabat yang menyuarakan etika berpakaian yang ‘tidak mengundang pelecehan’ sempat diperdebatkan.
Yang menentang pasti berujar kalau tidak ada hubungan antara pakaian dan tindak pelecehan. Tubuh milik sendiri, jadi terserah yang memiliki mau diperlakukan seperti apa. Wanita yang menjadi korban pun tidak hanya yang berpakaian minim. Kesetaraan gender kadang juga dibawa serta.

Lepas dari dua sisi yang bertentangan itu, saya rasa urusan berpakaian itu, manfaatnya akan kembali ke diri sendiri.
Berani melakukan sesuatu, semestinya juga berani menanggung apa-apa yang mungkin terjadi. Jangka pendek maupun jangka panjang. Meski tubuh punya sendiri, saat menyaksikan langsung pemandangan yang mencolok mata saya jadi risih dan jeri.

Suatu pagi, di depan toko milik tetangga, saya melihat seorang anak perempuan berdiri di dekat motor yang sedang diparkir. Yang membuat saya memperhatikannya adalah caranya berpakaian. Dia berseragam TK lengkap dengan sepatu dan tas. Yang tidak biasa ya bajunya itu. Cuma sampai sedikiit di bawah pantat. Maka, saat dia bergerak sedikit saja, apa yang ada di baliknya akan terlihat. Ternyata anak itu lagi menunggu ibunya yang sedang belanja.

Reflek saya jadi teringat pada kasus pelecehan anak di bawah umur yang kerap ditayangkan media. Yang kena jerat hukum selalu pelakunya, biasanya laki-laki, dewasa atau belum dewasa. Mereka jelas salah. Hanya saja, dengan melihat kenyataan anak TK seperti tadi jadi terpikir, tidakkah si korban pelecehan, atau setidaknya orang tuanya tanpa sadar punya andil dalam menyukseskan aksi pelaku pelecehan?
Di sekolah cara berpakaiannya seperti itu, bagaimana dengan di rumah? Bagaimana jika itu berlangsung tiap hari dan menjadi kebiasaan nantinya?
Ataukah memang ada orang tua yang beranggapan anaknya masih terlalu hijau untuk mengundang nafsu bejat lelaki tak bertanggung jawab? Tentu pelecehan tidak hanya menimpa perempuan, tapi tetap saja korban dari pihak perempuan lebih banyak.

Saat berhenti dekat lampu merah, di halte bis seberang jalan, seorang wanita muda duduk di situ. Dia menenteng sebuah tas besar dan masih ada satu tas lagi di sebelahnya. Tidak jauh darinya ada seorang bapak-bapak menjadi teman bicaranya, seolah-olah hendak melepas kepergian anaknya. Dugaan saya, gadis itu seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu di luar kota. Lagi-lagi yang membuat saya ternganga ya caranya berpakaian. Setidaknya, di daerah setengah kota setengah desa seperti di tempat saya, itu termasuk pemandangan yang tidak biasa. Punya nyali sekali dengan h4wtpants. Udara siang yang panas mungkin memicunya. Tapi.. seperti itu mau naik kendaraan umum? Mungkin ini cewek sudah sakti dengan menguasai ilmu beladiri.

Mungkin, khususnya bagi laki-laki, pemandangan tadi bisa diibaratkan makanan yang tampak lezat dan menggugah selera. Maka, bagi yang kelaparan dan tidak bisa menahannya, akan langsung disikat. Yang lainnya hanya menelan ludah, lalu bisa saja mencari konten berbau pornografi di internet. Yang lain lagi berpikir lebih jauh dan tidak terpengaruh.

Kalau otak reptil dibiarkan berkuasa, pelecehan sangat mungkin terjadi. Akibatnya bagi korban bisa ringan bisa juga berat. Dari kulit atau perasaan yang lecet-lecet sampai tubuh yang kaku membiru tragis.

*ilustrasi: credit to trevor brown

7 Fakta Tentang Diri Anda Read More »

Sebenarnya saya enggak mengerti sama-sekali apa yang disebut award-award-an dalam dunia ngeblog. Yang pernah saya lihat di tempat blogger luar negeri biasanya dipajang di side-bar. Sebelum ini saya kira penerima macem-macem award itu pastilah sudah punya pencapaian tersendiri dalam ngeblog. Mungkin karena postingan yang berkualitas super, konsistensi dalam ngeblog, komentar atau pengikut yang mengular, dan mungkin juga sebab lain.

Saat jalan-jalan ke blog Anggita dua hari yang lalu, saya mendapati postingan yang terbarunya tentang Liebster Award. Yang mengejutkan, Mbak Anggita ini mencantumkan saya sebagai kandidat penerima Lobster, eh Liebster award berikutnya. Liebster saja enggak ngerti artinya. Setelah tanya google sebentar, ternyata Liebster = beloved, boyfriend, dearest, sweetheart. Jadi, Liebster award ini seperti penghargaan buat persahabatan kali aja ya..

Read More »

apa kabar hari ini?

kemarau belum beranjak pergi,
kala hujan kian dinanti,
tapi kalau kemarau saat ini berhenti,
cukup banyak petani akan merugi,
karena pada ramai-ramai menanam tembakau daripada kacang hijau atau kedelai panennya baru beberapa minggu lagi