Skip navigation

Apakah kalian punya teman, kenalan, atau mungkin diri sendiri yang seorang introvert?

Selama ini orang yang saya temui di dunia nyata lebih banyak yang punya anggapan miring tentang manusia introvert. Tidak bisa diajak bekerjasama, kurang pergaulan, pemalu, rendah diri, angkuh, dan sebutan kurang sedap lainnya yang mereka lekatkan pada sosok introvert. Seolah di dunia ini, agar bisa sukses di bidang apa pun, orang haruslah menjadi ekstrovert. Anggapan itu kerap membuat orang yang (merasa) introvert kian tersudut, meski ada juga yang tidak peduli apa kata orang.

Suatu hari seorang teman saya berujar jika dia adalah seorang introvert. Sifat itu dia percayai menjadi salah satu hal yang membawa efek buruk dalam hidupnya, dalam berhubungan dengan orang lain. Introversi ini seolah menjadi monster mini yang pelan-pelan menghancurkan impian dan harapan. Entah karena kurang empati atau apa, saat itu saya langsung menanggapinya dengan ‘apa salahnya jadi introvert?’ yang membuat suasana di antara kami sedikit panas tapi tidak perlu waktu lama untuk berbaikan lagi.

Soal ekstrovert dan introvert itu, saya lebih menerimanya sebagai suatu arah orientasi energi alami. Energi di sini sejenis kesenangan atau keadaan yang  orang merasa nyaman dan damai berada di dalamnya. Setiap orang punya dua sisi atau temperamen ini. Satu sisi diarahkan ke luar (ekstrovert) pada berbagai aktivitas, kesenangan, orang, dan benda. Sisi yang lain ditujukan ke dalam (introvert) berupa pemikiran, minat, ide, dan imajinasi. Dua sisi ini memang sangat berbeda, tapi saling melengkapi. Hampir semua orang memiliki kecenderungan bawaan pada energi ke luar atau ke dalam ini. Salah satu sisi mereka, sisi ekstrovert atau introvert, akan mengarahkan perkembangan kebribadian dan berperan lebih dominan dalam berperilaku. Orang introvert akan memiliki karakter seperti ini:

  • Berpikir/merenung lebih dulu, baru bertindak
  • Perlu waktu berkala untuk menyendiri yang berfungsi seperti men-charging baterai
  • Termotivasi dari dalam diri, kadang pikirannya sangat aktif sehingga ‘tertutup’ dari dunia luar
  • Lebih menyukai komunikasi dan hubungan privat antara dirinya dan orang lain satu lawan satu

Sementara itu, orang ekstrovert punya karakter berkebalikan dari yang di atas.

Ekstrovert atau introvert tidak bisa disalahkan begitu saja atas kegagalan atau keburukan seseorang. Buat seorang introvert, berada di tengah keramaian yang menghendakinya berinteraksi itu melelahkan. Sangat mungkin, yang membuat introvert secara umum mendapat cap negatif atau bahkan sampai bermasalah dengan lingkungannya adalah karena kurangnya atau tidak digunakannya keterampilan sosial. Karakter dasar introvert rentan untuk itu, walaupun yang ekstrovert tidak selalu unggul dalam keterampilan sosial. Orang (yang bukan teman dekat) bisa tersinggung dengan dinginnya sikap si introvert. Terlalu banyak bicara atau ketidakbisaan mengendalikan ucapan sehari-hari juga bisa membuat telinga atau hati pendengarnya teriritasi.

Seseorang dikatakan cerdas secara sosial bila ‘bisa memahami dan menghargai berbagai macam kepribadian yang amat berlainan yang dijumpai, demikian pula apa yang mendorong mereka, apa kebutuhan pribadi mereka, dan bagaimana sebagai pribadi dia mampu membuat mereka merasa nyaman dan senang bersamanya.’ Rasanya, setiap orang punya peluang untuk bisa seperti itu.

Saya yakin, Allah swt menciptakan manusia dengan segala keunikan untuk mengisi perannya masing-masing. Introvert dan ekstrovert punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Tentu saja introvert bisa berakting layaknya ekstrovert dalam situasi tertentu, tapi dengan begitu energinya akan terkuras sehingga perlu dicharge lagi, dan dia tetaplah introvert. Dia akan tersiksa jika memaksakan diri menjadi ekstrovert permanen, menjadi orang lain, hanya untuk memuaskan orang di sekelilingnya. Karena itu, jika seseorang memang punya temperamen introvert, langkah pertama yang sebaiknya diambil adalah menerima dan berdamai dengan diri sendiri.

Orang introvert paling tidak punya dua hal yang bisa dijadikan modal untuk lebih bisa diterima dalam lingkungannya: kekuatan untuk berfokus dan kemampuan untuk mendengarkan. Ini bukan berarti kemampuan berbicara dipinggirkan, hanya saja keduanya sangat penting dalam menunjang komunikasi yang baik, yang berimbas pada meningkatnya keterampilan sosial. Begitu sering ada pelatihan berbicara yang baik, pelatihan bicara di muka umum, dan sebagainya, tapi berapa banyak yang mengadakan pelatihan mendengarkan?

Mendengarkan yang benar-benar mendengarkan, bukan yang basa basi.  Dengan mendengarkan orang lain, input yang masuk semakin banyak, selanjutnya dia bisa menyusun lalu mengeksekusi tanggapan yang sesuai. Walaupun tidak gampang, yang namanya keterampilan pasti bisa dilatih lalu dikuasai, dan yang paling ekstrim, dimanipulasi. Jadi, apa salahnya menjadi introvert?

gambar: thepowerofintroverts.com

Ref:

Head First, Tony Buzan.

Sebagian isi diambil dari sana

 

Manusia bagaikan rumah dengan beberapa ruangan dan jendela. Jika Anda melihatnya  melalui jendela ruang depan, Anda mungkin tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi di dalam sana. –Ross Reinhold–

 

Advertisements

23 Comments

  1. tapi yang aku rasakan sungguh jadi introvert itu gak nyaman banget,,,, aku juga pengen punya sahabat seperti orang lain,,,, kenapa ci introvert ini gak punya komunitasnya….

    • iya.., aku pernah merasakan hal yg sama.

      kalo urusan persahabatan, yg sulit biasanya adalah langkah awal untuk membuka prsahabatan itu. kita baru buka mulut kalo ada yg menyapa duluan.
      begitu prsahabatan trbentuk, hubungannya akan mendalam.
      jika seorang introvert punya sahabat dg jumlah banyak, maka sangat mungkin dia akan kesulitan memelihara prsahabatan itu, sebab dia perlu waktu2 tertentu untuk ‘sendiri’.
      ini hanya kecenderungan ya, jadi bisa saja tidak berlaku.

      sepertinya menarik jika introvert punya komunitas.. tapi coba bayangkan kalo ada 100 introvert brkumpul dalam satu ruangan. bisa2 semuanya akan sibuk dengan dirinya sendiri.. ^^

      kalo komunitas di internet, ada kok, tapi bukan di indo, salah satunya di http://personalitycafe.com
      ini forum tempat segala jenis kepribadian atas dasar MBTI.

      oh ya, unsur pembentuk kepribadian bukan cuma ekstrovert dan introvert lho..
      aku sendiri sangat trbantu dengan mbti, jadi lebih mengenali diri sndiri dan belajar berinteraksi dengan orang lain dengan lebih baik.

      kalo kamu pemula, apa itu mbti bisa dilihat di http://nafismudrika.wordpress.com

      Cheers ^_^

    • hai, aku juga introvert.. iya, ada gk ya komunitas yg khusus introvert? biar bisa saling sharing

  2. wah, sepertinya saya termasuk introvert. semuanya karakteria kamu ada pada saya. dan sekarang saya dalam proses memanipulasi introvert.

  3. Nice blogpost mba. Introvert maupun ekstrovert emang punya ciri khas masing-masing, tapi kan malah dengan adanya dua kepribadian itu yang bikin dunia lebih berwarna.. Hehee

    • hmmm… makasih mas.
      betul itu 🙂

      btw, maaf ya, baru balas, sebab komentar mas pena ini kena tilang, masuk spam.

  4. saya juga introvert, tapi saya tetap enjoy dengan ke-introversi-an saya 😀

    • siiip.. mantap deh mbak Puch.
      bisa jadi contoh nih 🙂
      makasih banget ya udah datang…

  5. saya apa ya? bisa introvert bisa ekstrovert, tergantung suasana lingkungannya sih.

    • ow..enak dong bisa menyesuaikan dengan dua habitat 🙂
      btw, terimakasih ya sudah singgah…

  6. Mungkin intinya sama aja kayak, “dengan adanya perbedaan pendapat, bukan berarti mereka salah kan?” Yang penting bagaimana kita belajar bagaimana dunia itu beragam ya mba e. 😀
    *cmiiw.

    • yup.. kalau semua seragam, kan jadi ga berwarna dunia, seperti tv hitam putih hehee…
      saat kita bisa mengerti dan menghargai perbedaan itu, saya rasa konflik (negatif) di lingkungan keluarga, pertemanan, kerja, dst akan berkurang..

      • Hitam putih mah mending atuh mba. Yang bener tu kalo hidup yang ada cuma hitam aja, nggiloni. 😀
        Setujuuuuuuu, permasalahan sekarang mah lebih ngedepanin ego masing2, dan menurutnya semua orang salah kalo beda. Hehe
        *CMIIW. 😀

        • marie d
        • Posted April 10, 2014 at 11:51
        • Permalink

        tapi kadang dunia yang terlalu berwarna juga tak menyenangkan..

    • jadi hidup di dunia hitam no mas.. lebih dari nggiloni..medèni 🙂
      iya sih, lebih gampang nunjuk salah ke orang ketimbang lihat diri sendiri – *cmiiw
      *saya selalu lupa buat menyertakan ini..

      • Hehehe. . Ya seperti itulah. Terkadang realita itu beda sama teori. Keterbatasan dan kekurangan tiap individu jadi satu bentuk perbedaan yang menarik yang bisa kita liat. 😀

      • yak, betuuuuul…
        🙂
        justru itu akan memperkaya pandangan kita..

  7. mas Ahmad Alkadri (lunacrafts.wordpress) juga nulis tentang hal yang sama nih. 😀

    • wah kedengarannya seperti diri saya beberapa tahun lalu. kalo sekarang saya udah sama sekali ogah kalo diajak kemana2 sama siapapun. emang bener tuh, salah satu kelebihan introvert bisa ‘faking’ berbagai emosi. tapi pada akhirnya ada satu titik dimana dia lelah “hidup untuk orang lain”. yang penting jujur mengungkap dan mengakui kebutuhan diri sendiri ya, jangan sampai mengorbankan hak pribadi.

      • iya, bisa dimengerti.
        menjadi diri sendiri lebih nyaman dan membahagiakan..asalkan kita mau mengembangkannya menjadi lebih matang.
        makasih ya buat tautannya..


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: