Skip navigation

mutiara negeri saba'

Judul                     : Mutiara Negeri Saba’: dari Budak Menjadi First Lady

Penulis                 : Hisani Bent Soe

Tahun                   : 2011/Mei

Halaman              : xii + 276

Penerbit              : Tinta Medina (imprint Tiga Serangkai)

Genre                   : Reliji/Sejarah

Pertama melihat sampulnya, saya merasa aura padang pasir yang kuat keluar dari novel sejarah ini. Subjudul dari budak menjadi first lady dan nama Hisani Bent Soe menjadi daya tarik awal buat saya untuk memiliki buku ini. Rasa penasaran saya kala itu begitu tinggi.

Yea..bagaimana ceritanya seorang budak naik derajat menjadi first lady alias ibu negara? Apa hubungannya dengan ujar-ujar yang mengatakan jika wanita adalah tiang negara? Dan Hisani Bent Soe? Terus terang, baru kali itu saya mengetahuinya..telat ya? Hehehe..

Novel ini punya dua alur cerita, masa sekarang dan masa lampau. Pertama tentang alur masa kini. Adalah Muthia, seorang pengajar Bahasa Arab di sebuah ma’had putri di Bandung, dikirimi naskah kuno temuan kawan chattingnya, seorang teknisi perminyakan yang pernah bekerja di Iraq sebelum diinvasi Amerika tahun 2003. Muthia diminta Satya –teman chattingnya itu—untuk menerjemahkan naskah kuno yang kondisinya sudah lapuk sehingga membacanya pun sulit. Di tengah kesibukannya, Muthia lalu mengerjakan penerjemahan itu yang memakan waktu sampai beberapa tahun. Terjemahannya dikirimkan ke Satya secara bertahap lewat email. Nah, alur kedua, inti novel ini tidak lain hasil berupa terjemahan naskah kuno dari Iraq tadi.

Rupanya, naskah tersebut adalah semacam diari milik seorang wanita yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Namanya Khaizaran. Asalnya dari daerah Jurasy, Yaman. Senjatanya adalah kertas, pena, dan tinta. Sewaktu masih gadis, dia diculik oleh sekelompok orang yang kemudian menjualnya –bersama beberapa gadis lainnya– ke pasar budak di Mekah. Awalnya Khaizaran merutuki habis nasibnya dan menejelek-jelekkan Khalifah atas kecerobohannya membiarkan para penculik berkeliaran. Akibatnya, dia kerap dicambuk dan menjadi budak terakhir yang laku. Yang membelinya adalah Al Mahdi, putra khalifah Al Manshur sepulangnya dari berhaji. Al Mahdi tertarik justru oleh makian-makian Khaizaran pada ayahnya dan penasaran kalau semua itu benar adanya.

Seiring waktu, Khaizaran menjadi budak Al Mahdi yang setia. Menjadi budak justru menjadi jalan baginya untuk mengenal istana, khalifah dan keluarganya, sistem pemerintahan dan politik, sekaligus membuka kesempatan untuk mendulang berbagai macam ilmu, baik dari perpustakaan milik Al Mahdi maupun majelis-majelis keilmuan di Baghdad. Dia juga rajin menghafal Al Qur’an.

Dari Khaizaran, Al Mahdi memperoleh tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan yang meninggal saat masih kecil. Khaizaran menjelma menjadi salah seorang penasehat pribadi Al Mahdi, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi khalifah. Dia tidak segan hadir dalam rapat-rapat kenegaraan, dengan status masih sebagai budak. Hal itu tidak lepas dari pro kontra dan membuat isti pertama Al Mahdi cemburu buta. Maka, Al Mahdi pun menikahi Khaizaran dan kukuhlah posisinya sebagai ibu negara. Sebagai orang yang haus ilmu, Khaizaran tetap mendampingi kedua putranya, Musa dan Harun untuk menuntut ilmu di Madinah. Dia sangat ambisius untuk menjadikan putra-putranya layak memangku jabatan khalifah walaupun tidak berkeberatan seandainya ada sosok lain yang lebih mampu dalam hal itu.

Beberapa hal yang bisa diambil dari novel ini diantaranya:

Hidup tidak selamanya mudah.

Jika kita ingin meraih sesuatu, kita harus siap dengan konsekuensinya dan tidak gampang menyerah pada keadaan. Persis seperti yang tercermin dari kisah Khaizaran: cita-citanya menjadi ulama didahului dengan kenyataan menjadi budak. Untunglah, dia seorang wanita yang berjiwa kuat dan mampu merenungi ayat-ayat Al Qur’an dan hadist nabi untuk membuatnya tetap optimis menjalani hidup. Aku sendiri merasa tertonjok dengan kutipan Hadist Arba’in no. 4 tentang nasib manusia; bahwa segala amal tergantung pada akhirnya… hadist yang dari dulu membuat saya merinding takut.

Tentang perbudakan.

Ini topik yang sangat sensitif, rentan, tapi juga sangat memancing keingintahuan. Hukum Islam membolehkan seorang lelaki ‘menyentuh’ budak perempuan miliknya (dan tidak sebaliknya, wanita kepada budak laki-lakinya). Perbudakan bukan bagian dari ajaran Islam, tapi lebih merupakan warisan budaya. Idealnya, kita harus bisa membedakan antara ajaran Islam dan masyarakat Islam, karena belum tentu suatu masyarakat Islam menerapkan ajaran Islam secara utuh. Meskipun tidak langsung mengharamkan perbudakan, tapi hukum Islam terkait pembayaran denda atas suatu pelanggaran banyak yang mensyaratkan dilakukannya pembebasan budak, misalnya bila sepasang suami istri berhubungan pada siang hari di bulan Ramadhan.

Tentang pernikahan dan keluarga

Belajar dari Khaizaran sang ibu negara kesayangan khalifah Al Mahdi. Dia sosok ambisius, tapi ambisinya terkendali pada kebaikan. Dia memikat dan ‘mengikat’ Al Mahdi dengan kecerdasannya. Selain itu dia pintar menjalin hubungan baik dengan orang-orang dalam istana. Dia ibarat Aisyah bagi Rasulullah. Sungguh berat bukan, untuk menahan diri dari cemburu buta di antara empat istri Al Mahdi dan belasan budak perempuannya?

Khaizaran ini juga sangat dekat dengan anak-anaknya, mendidik mereka dengan penuh cinta, dan mampu memahami mereka sesuai tahap perkembangan usia. Seorang ibu yang nyaman sebagai tempat curhat lah.

Tentang sejarah

Khaizaran adalah ibunda dua khalifah Abbasiyah, Musa Al Hadi dan Harun Ar Rasyid. Di zaman Harun Ar Rasyid inilah dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya membentang di tiga benua; mencakup wilayah Afrika Utara, merentang dari Laut Mediterania di sebelah barat hingga Hindukush, India di timur. Berbagai bidang ilmu, seni, militer, ekonomi, berkembang dengan pesat. Saat itu Baghdad menjadi pusat peradaban dunia. Dari masa itu pula muncul tokoh yang melegenda seperti Abu Nawas.

Soal bahasa, novel ini cukup menawan karena dijejali kata-kata yang terangkai indah, terutama metaforanya, diselingi dengan beberapa syair berasa khas Arab yang memukau.

Apa yang ayahmu galakkan, yaitu kebaikan adalah benar

Berita tentangnya hadir dengan lisan dan bukan dengan tangan

Lisan dan pedang keduanya tajam benar

Lisan pembelaku menyampaikan apa yang tidak pedang sampaikan

Jika harta banyak menemukanku, kan kugunakan dengan benar

Dan jika tongkat kesungguhanku bengkok, harta itu kubekukan

Tidaklah harta membuat aku lupa keimanan yang subur

Dan tidak juga kenyataan yang sulit membengkokkan kepala dingin

(Hassan ibnu Tsabit) (halaman 22)

Terlepas dari kisah Khaizaran yang inspiratif, yang seperti menjadi pematah dominansi laki-laki dalam berkisah tentang sejarah umat Islam, tetap saja ada yang mengganjal dalam novel ini.

Istilah dan kata-tata berbahasa Arab yang sebagian tidak diberi penjelasan.

Misalnya: hammam, syuruq, jazakumullah, dll. Walaupun maknanya masih bisa diterka dari konteks, tetap terasakan adanya inkonsistensi, karena sebagian istilah Arab yang lain dijelaskan dalam catatan kaki. Dan hal ini seperti berseberangan dengan:

Penggunaan istilah modern yang terasa kurang pas.

Coba bayangkan jika kosakata berikut diucapkan dalam percakapan, atau terbetik dalam benak orang pada abad ke-8 dan 9: lisensi, suksesi, primordial feodalisme, long dress, terminologi, zigot, revolusi, nepotisme, eskalasi, ideologi,… menurutku malah mengikis eloknya suasana masa lalu.

Atau, bisa jadi memang dibuat demikian untuk memudahkan pemahaman pembaca?

Typo?

Halaman 147 baris ke-3:

Negeri Andalus ditaklukkan di masa Al-Walid ibnu Abdul Malik, khalifah Negara Umawiyyah, pada tahun 93 Masehi. => maksudnya Hijriyah?

Melanjutkan plot hubungan antara Muthia dan Satya, yang mengusikku adalah, hubungan mereka ini agak terlalu, mengingat status sosial Muthia yang seorang ustadzah. Foto berdua di kafe pada malam hari? Satya yang bertandang ke kost Muthia di Aleppo (ceritanya Muthia melanjutkan S2 di sana) dan masuk ke kamarnya saat ditinggal Muthia sebentar? Berlibur berdua? Argh.., whatever it takes, the writer rules.

Yaa…sudahlah, yang jelas yang paling membuat saya iri dari figur Khaizaran adalah pengalamannya bertemu dan mengeduk ilmu langsung dari ulama-ulama besar Islam pada masa itu, diantaranya, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Al Auza’i. Wew..

Novel romantis ini hadir di tengah-tengah situasi negeri kita yang berpenyakit. Kekurangan figur pemimpin yang pantas diteladani, merosotnya nilai-nilai kekeluargaan, meningkatnya angka perceraian, kenakalan remaja, dan lain sebagainya. Cocok untuk sobat, terutama wanita, yang merindukan sosok hebat sebagai penguat tekat untuk terus melangkah maju menjadi lebih baik. Menjadi mutiara di dalam keluarga: sebagai pendamping suami yang layak dihargai, dihormati, dicintai, dan disetiai, juga sebagai ibu yang bermartabat yang mampu mendidik anak-anaknya agar tidak menjadi sampah peradaban.

Mengenai penulisnya, Mbak Hisani adalah pengajar Bahasa Arab di Ma’had Al-Imarat Bandung. Sebelum merilis Mutiara Negeri Saba’, penulis telah sukses menelorkan novel Pengikat Surga yang menceritakan kisah awal dakwah Rasulullah dari penuturan Asma’ binti Abu Bakar. Saat ini penulis merintis kajian tafsir, sejarah, dan sastra Arab di tempatnya mengabdi. Jadi, otoritas keilmuan penulis jauh dari meragukan.

Akhir kata, di balik seorang lelaki hebat, terdapatlah sosok wanita hebat. Di sisi seorang lelaki bejat, tegak seorang perempuan keparat.

Advertisements

7 Comments

  1. suka sama tulisannya kakak trims
    eh jgn lupa juga kunjungi blog kami juga salam kenal… irmaliang.blogspot.co.id

  2. i like it

  3. hmmmmmmmm
    great book


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: