Skip navigation

Menelusuri budaya suatu masyarakat di negeri yang jauh dalam sebuah novel misteri, tidak saya pungkiri adalah hal yang sangat menyenangkan. Stigma bacaan lawas tidak lantas menyurutkan minat saya untuk mencoba membacanya di tengah kepungan buku-buku yang lebih baru. The Skull Mantra. Ini novel pertama serial Inspektur Shan Tao Yun, pertama kali terbit tahun 1999. Efeknya sesuai dengan judulnya, benar-benar memelet ketertarikan saya untuk membacanya hingga tuntas.

Kita diajak mengikuti perjalanan Inspektur Shan Tao Yun, seorang mantan penyidik di Departemen Perekonomian Cina yang didepak dari jabatannya karena terlalu berani mengkritisi atasannya yang korup. Setelah segala terapi untuk memulihkan ‘kesadaran berpolitiknya’ kandas, ia dilempar ke lao gai, penjara yang berisi tahanan politik di Tibet dan harus bekerja menjadi buruh kasar yang bertugas membangun jalan.

Masuk penjara bukan akhir dari harapan, justru di sanalah Shan menemukan kehidupan baru hasil dari tiga tahun berinteraksi dengan para biksu Tibet yang menjadi tahanan mayoritas. Dia juga menjadi saksi mata kebrutalan tentara Cina pada orang-orang Tibet yang menentang kebijakan pemerintah di Beijing.

Suatu hari, kru pekerja jalan Brigade ke-404 menemukan sesosok mayat berpakaian perlente tanpa kepala di pedataran tinggi Himalaya. Berhubung Jaksa Jao sedang berlibur di luar wilayah Lhadrung, seseorang perlu menggantikan posisinya sementara untuk menangani kasus itu. Alih-alih menugaskan asisten jaksa, Li Aidang untuk turun tangan, Kolonel Tan yang membawahi Lhadrung County malah menunjuk Shan untuk melakukan pelacakan sekadarnya sekaligus menyusun laporan kasus itu. Shan dibebaskan sementara dan tindak-tanduknya tetap diawasi.

Dari sana petualangan Shan bermula. Dia dibantu Yeshe Retang, seorang pemuda Tibet berpendidikan tinggi yang bekerja untuk Cina dan dikawal oleh Sersan Feng yang agak bebal tapi penuh dedikasi dalam bertugas. Yang mengejutkan, korban pembunuhan itu ternyata Jaksa Jao sendiri! Kutungan kepalanya ditemukan di altar suci dalam sebuah gua tempat penyimpanan tengkorak para pemuka agama yang dihormati di Tibet sejak berabad-abad yang silam. Celakanya, seorang biksu Tibet keburu menjadi tertuduh meski bukti yang ada masih meragukan. Kolonel Tan menghendaki kasus itu segera dipungkasi, terlebih mengingat rencana kunjungan turis Amerika dua pekan mendatang, tapi Shan membaui suatu ketidakberesan. Shan menginginkan kebenaran terungkap, sedangkan Tan berhasrat agar sesuatu yang masih samar itu terlihat benar.  Shan harus berjibaku dengan nuraninya sendiri; jika ia mengikuti anjuran Tan, berarti ia menghukum dirinya sendiri, suara hatinya yang terdalam, tetapi bila ia menentang, pemerintah Cinalah yang akan menghukumnya selama-lamanya.

Banyak pihak yang terlibat dan punya kepentingan sendiri di Tibet. Orang-orang Tibet punya alasan untuk melakukan perlawanan atau tindakan yang mereka anggap benar. Kolonel Tan punya alasan untuk memberlakukan suatu kebijakan. Juga perusahaan tambang Amerika, punya motif tersendiri. Semua saling tumpang tidih berbelit berkelindan. Di sela-sela semua itu Shan berusaha memecahkan permasalahan: menyelamatkan biksu yang tidak bersalah sekaligus semua anggota Brigade 404, yang berujung pada penyelamatan reputasi dan nyawa Kolonel Tan, dua misi yang tampak berseberangan.

Ada setidaknya empat poin yang menjadikan The Skull Mantra begitu menarik buat saya:

Ø       Setting di Tibet, kawasan pegunungan Himalaya

Kawasan yang dianeksasi Cina di awal tahun 50an ini setahu saya jarang diekspos media atau ditayangkan dalam warta berita. Sampai sekarang, pembebasan Tibet masih terus diperjuangkan –> freetibet.org. Selain itu masih ada suku nomaden di sana, adat pemakaman langit, garam Himalaya yang berkhasiat, dan masih banyak lagi.

Ø       Tokoh protagonisnya, Shan Tao Yun

Dia orang Cina, tapi kejujurannya menjerumuskannya menjadi pesakitan pemerintahnya sendiri. Merasa diterima dan diperlakukan dengan baik di lingkungan penganut Budha, Shan pun mempelajari ajaran Budha dan menemukan adanya kemiripan antara Budhisme dengan Taoisme yang dianutnya. Dalam keadaan tertekan secara fisik dan mental yang berat, Shan masih mampu menjaga integritas dirinya.

Ø       Genre 

Saya penggemar berat novel misteri –atau detektif atau thriller, karena menurut Daniel Chandler pengelompokan genre itu tidak ada yang murni dan serba subyektif—yang menuntut pemecahan suatu masalah dengan semangat investigatif dan petualangan. Really my cup of tea..

Ø       Unsur budaya dan politik

Entah berapa banyak riset yang dilakukan Mr. Pattison di Tibet sehingga bisa menyampaikannya dengan detil, termasuk istilah-istilah khas Tibet. Kita dibawa memasuki atmosfer Tibet, hubungan dan konfliknya dengan Cina. Sebagai penganut sosialisme, penguasa Cina memandang bahwa suatu tindak kejahatan terhadap individu berarti juga kejahatan terhadap rakyat. Selain orang Tibet, yang juga menjadi sasaran penindasan Cina adalah kelompok muslim yang menjadi penduduk mayoritas Xinjiang, propinsi di barat laut Cina. Dalam novel ini digambarkan kalau tidak semua orang Cina adalah iblis, dan tidak seluruh orang Tibet berjiwa malaikat.

Di samping empat alasan itu, saya juga menyukai gaya penulisan Eliot Pattison yang lugas. Keelokan negeri di atas awan plus karakter tokoh-tokohnya yang tidak sekadar ‘hitam-putih’ bisa tergambar cukup jelas. Novel ini sukses membuat saya menebak-nebak hingga ceritanya tamat. Yang paling saya suka adalah dialog-dialog antara Shan dan Kolonel Tan yang bikin geregetan.

Tan         : “And your intentions, Comrade?”

Shan     :“Colonel, I could say you are insensitive, stubborn, short-tempered, manipulative, and quite dangerous. But you’re not corrupt.

Plot novel ini klasik, mencari jawaban ‘whodonit’ alias siapa kriminalnya. Sisi negatif (yang membuat malas membaca)  novel ini mungkin terletak pada bab pertama, ceritanya bergerak laaambat. Namun begitu,  novel ini cocok buat teman-teman yang menyukai misteri berlatar belakang budaya Tibet dengan karakter utama yang berintegritas.. Oh ya, The Skull Mantra memenangkan Edgar Award kategori Best First Novel tahun 2000.

Website Eliot Pattison di sini, sementara The Skull Mantra bisa dibaca online  di sana.

*gambar diambil dari Barnes and Noble

Advertisements

Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: