Skip navigation

sharingilmu.tk

      Judul                                     : Negara Kelima

      Penulis                                 : ES Ito

      Penerbit/Tahun                   : Serambi/2005

      Halaman                              : 517

      Genre                                   : thriller

Tanda bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap suatu rahasia selama pembaca tanda itu mampu memahaminya. Tapi tanda bisa juga mengecoh si pembaca hingga pemahamannya berbelok jauh. Seperti kata Umberto Eco, tanda bisa mengandung kebenaran seperti halnya kebohongan karena tanda adalah hal penting yang mewakili hal yang lain.

Sayatan membentuk gambar piramid dengan garis diagonal melintang di tubuh tanpa nyawa dua gadis yang bersahabat dan beberapa korban lainnya mengarahkan polisi untuk memburu para anggota KePaRad, Kelompok Patriotik Radikal. Pasalnya, lambang piramid semacam itu menjadi simbol resmi kelompok ini. Beberapa waktu sebelum terjadi pembunuhan beruntun, KePaRad menyatakan bertanggung jawab atas beberapa aksi tidak berdarah yang cukup meresahkan masyarakat. Dua polisi yang muak dengan tindak tanduk sebagian besar anggota institusi mereka yang korup ingin mengungkap kasus pembunuhan tersebut secara independen. Sayangnya, satu dari mereka lebih dulu tewas dengan tanda piramid tergurat di badan. Sialnya, yang menjadi tertuduh adalah sahabatnya sendiri gara-gara saksi mata menyatakan dialah orang terakhir yang terlihat bersama korban dan diperkuat dengan jejak sidik jari.

Kemalangan Timur Mangkuto, polisi muda yang menjadi tersangka utama itu kian menjadi-jadi. Sebelumnya, secara karir ia telah dibunuh akibat kekritisannya kepada atasan. Dari bagian reserse umum kriminal, ia dipindah ke Detsus Antiteror, lantas digeser menjadi perwira data dan informasi yang sehari-harinya memelototi monitor. Siksaan lahir batin bagi seorang lima besar alumni terbaik Akademi Kepolisian. Kini ia menjadi buronan dengan cap teroris dan sudah diberitakan ke seantero negeri. Timur tidak punya pilihan yang lebih baik selain lari.

Awalnya dia dibantu oleh Genta, asistennya. Pelarian itu kemudian menuntunnya untuk menyelidiki KePaRad yang misterius sekaligus memburu pembunuh sahabatnya. Dibantu seorang sejarawan muda bernama Eva Duani dan ayahnya, pelacakan itu membawanya ke jalur petualangan sejarah dan politik yang cukup mendebarkan. Penuh intrik, dengan tokoh-tokoh yang saling mendahulukan kepentingan pribadi demi secuil kenikmatan dunia. Segelintir saja yang masih bermoral.

“Orang-orang tua di negeri ini selalu menyesal dan malu. Itu sebabnya mereka menutup diri mereka dengan uang korupsi. Dan itu pula sebabnya banyak dari mereka yang lari ke luar negeri. Mereka sangat menyesal dan malu. Itu sebabnya mereka sering bersembunyi dari kalian. Mereka menyesal dan malu sebab anak-anak yang mereka lahirkan tidak lebih dari seonggok daging dengan nyawa hewan. Itulah sebagian besar generasi kalian, bukan lagi manusia tapi hewan. Tidak lebih dari itu.”

Bagaimana cara Timur menemukan si pembunuh berantai? Apa pula yang membuat anak-anak muda dengan semangat tiada tara begitu yakin bisa mendirikan Negara kelima sebagai perwujudan cita-cita KePaRad?

Novel pertama ES Ito ini sangat terasa cita rasa Dan Brown-nya: mengulik sejarah sampingan yang kontroversial. Teks Timaeus and Criteas milik Plato dan sejumlah penelitian sejarawan lokal menjadi dasar pembenaran jika Atlantis, negeri misterius yang tenggelam ribuan tahun lampau, berlokasi di Nusantara, dengan wilayah yang sedikit lebih luas daripada  Indonesia sekarang. Teka-teki tentang negara kelima mau tidak mau harus dipecahkan dengan menyusuri jalan panjang sejarah empat negara terdahulu yang menuntut kemampuan memilah-milah antara sejarah rekaan dan sejarah betulan. Novel ini seperti menjadi muntahan keresahan dan kekecewaan penulis pada kondisi negeri kita dewasa ini.

Novel dengan judul yang bombastis ini juga terkesan ‘mengagungkan’ suku Minang di Sumatera Barat dengan menyebut mereka sebagai keturunan Alexander de Great alias Iskandar Zulkarnain (diasumsikan keduanya adalah orang yang sama), negeri mereka adalah negara ideal ala Plato, ketidakberdayaan Adityawarman menundukkan Minang, juga jasa daerah itu sebagai lokasi penyambung nyawa Republik Indonesia era Pak Syafrudin Prawiranegara. Spoiler: bentuk atap rumah Gadang dan penutup kepala khas Minang yang menyerupai sepasang tanduk itu menyimbolkan makna ‘zulkarnain’, yang berarti ‘memiliki dua tanduk’. Umm, bukan menempatkan mereka sebagai ras termulia, jadi tidak terlalu bermasalah menurut saya, setidaknya sebagai bayaran atas hegemoni Jawa terhadap daerah-daerah lainnya J

Meski ini novel lama (terbitan 2005), tapi saat ini ada sebuah fenomena menarik yang menurut saya masih berhubungan: dugaan tentang adanya piramid yang terkubur di dalam beberapa gunung di Jawa Barat. Idenya sama-sama menguak kejayaan nusantara di masa silam, sama-sama menyinggung tentang piramid. Bagaimana seumpama di Indonesia benar-benar ada piramid raksasa, lebih tua dan lebih besar dari piramid di Giza, Mesir? Apakah buku-buku sejarah akan direvisi?

Secara keseluruhan, novel ini cukup mengasyikkan, kecuali penuturan sejarah yang kadang bertele-tele, mirip ceramah dalam pelajaran sejarah yang bikin ngantuk. Membuktikan bahwa sejarah tidak cukup sekadar mengenang nama, tanggal, dan peristiwa. Penyebab sejarah bisa menjadi seperti ini atau itu sangat layak dikaji. Selain itu, yang mengurangi greget novel ini adalah ending dan alur yang tidak terlalu sulit ditebak, sudah bisa diraba di awal-awal cerita. Tapi tetap seru untuk dibaca hingga tuntas kok..

Download novel Negara Kelima

Advertisements

Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: