Skip navigation

Monthly Archives: July 2012

Jika kita ketinggalan makan sahur…

1. Tenang, tenang… lakukan shalat fajar, juga membaca Qur’an. Hati kita akan tenteram.

2. Tidak perlu terobsesi dengan ketidaksahuran. Terus-terusan mengingat kalau kita tadi pagi tidak sahur akan membuat kita semakin malas.

3. Jalani dan nikmati hari ini. Tanamkan keyakinan dan tekat pada diri sendiri untuk selalu produktif.

4. Tidur siang bila perlu. Kalau kita merasa super lapar, tidur bisa membantu mempersingkat jalan menuju waktu berbuka, asal lama tidurnya tidak overdosis.

5. Menyibukkan diri dengan kegiatan positif yang kita suka. Dengan begitu bergantinya waktu dari pagi ke siang ke senja tidak terlalu berat terasa.

6. Berdoa kepada Allah, Tuhan yang kita sembah, yang kita mintai pertolongan. Kalau kita berpuasa karena-Nya, maka Allah akan menolong kita menuntaskan puasa kita, baik kita sahur ataupun tidak.

≤ diadaptasi dari 30 Tips for a Guilt-Free Ramadan, ProductiveRamadan.com ≥

Advertisements

Taken from somewhere in the internet and beyond, these are twisted, but still… hilariously true!

  • Be yourself. Everyone is already taken. <Oscar Wilde>
  • Don’t put off till tomorrow the fun you can have today. <Lenina, Brave New  World>
  • Insanity is hereditary. You get it from your children.
  • Knowledge is power. Power corrupts. Study hard. Be evil.
  • Knowledge is power. The more I know you the more power I have over you.
  • Minds are like parachutes. Just because you’ve lost yours doesn’t mean you can borrow mine.
  • Nasi sudah menjadi bubur. Tambahkan daging ayam, seledri, bawang goreng, kerupuk, jadilah bubur ayam spesial.
  • Never argue with an idiotThey’ll drag you down to their level, and beat you with experience. 

Remember a nice smile will get you so far but a simple grin and gun will get you much further.

 

^_^ Happy Fasting Dear Reader! ^_^

banjir besar di ujung negeri
setia melayari berita hari ini
catatan kemalangan tak kenal hari
semua datang tanpa permisi
mengaduk kedamaian bulan suci

di sana banjir bandang
di sini bumi kering kerontang
di sana luapan air menggenang
di sini ke mana mata memandang
semua tampak gersang

akankah ini penanda berkah
atau tumpukan kealpaan yang melimpah
terulang dan menyejarah
terpikat rayuan pulau tenggelam

pengurasan hutan
pemanasan global
eksploitasi tanah
haarp kawan
mengapa tanya siapa salah
jika diri tak ingin berbenah

ìni hanya simpati
semoga kalian yang terendam tak habis berani
melalui hari hingga semua normal kembali

Isu tentang bahaya MSG sudah lama merembesi berita di berbagai pelosok bumi, tapi  hingga hari ini penguat rasa yang satu ini masih tetap banyak diminati, tidak terkecuali oleh nyaris semua orang di lingkunganku. Iklannya yang gencar mungkin membuat isu keamanan produk ini berlalu begitu saja. Namanya juga isu, kabar yang tidak (belum) jelas asalnya.

Begini kurang lebihnya ungkapan yang sering kudengar di dapur orang yang lagi punya hajat di sekitarku:

  • ‘Sambalnya kepedasan. Coba tadi ditambahi R***0… ga akan sepedas ini!’
  • ‘Ha…! Cuma setengah bungkus? Masih kurang! Masukkan semuanya!’ => maksudnya sebungkus penyedap rasa merk tertentu.
  • ‘Keripiknya nanti ditambah M****0 ya, pasti enak dan banyak yang suka…’
  • ‘Apa jadinya kalo masak ga pakai M****0?’

Hwaaaa…*nangis dalam hati, alamat bencana buatku.

Salah satu hal yang membuatku harus berlaku hati-hati adalah makan di luar rumah. Bukan karena makanan itu tidak enak, tapi reaksi tubuhku yang tidak bisa menerimanya. Makanan yang disajikan untuk umum, baik yang dijual maupun yang dihidangkan dalam suatu acara, lebih sering memakai MSG sebagai penguat rasa. MSG seperti sudah menjadi substansi wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Justru inilah yang tidak bisa kutolerir.

Setiap kali menikmati makanan yang mengandung MSG–kecuali bila sedikit–, dalam hitungan menit aku akan merasa pusing, lebih tepatnya migraine dan tenggorokan menjadi kering serasa terbakar. Semakin banyak kandungan MSG dalam makanan, pusing yang kurasakan akan semakin lama plus berat dan rasa terbakar juga kian parah. Hal ini sudah kutandai terjadi selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ketiadaan MSG dalam makanan (buatan sendiri) tidak pernah membuatku pening atau merasakan panas di tenggorokan sehabis makan. Read More »

After long, tear bathing journey you come to the end of that road. Owh, that’s not the very end, my dear friend. You still have a long way to go, maybe it’s bumpier than the one you have just left behind.

Hearty congratulation for your special bond!

May Allah bless you and blessing whatever He gives you and brings you together in rectitude.

‘Until you are happy with who you are, you will never be happy with what you have.’

Be.more.you!