Skip navigation

ebooksread.com

          Genre        : misteri/detektif

          Penulis     : Dr. Richard Austin Freeman

          Tahun       : 1907

 

Sinopsis

Reuben Hornby menjadi tersangka utama kasus pencurian berlian di tempatnya bekerja, meskipun pemilik tempat itu adalah pamannya sendiri.  Melalui pengacaranya (solicitor), Reuben minta bantuan dr. Thorndyke untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Sebaliknya, pengacaranya menyarankan untuk mengakui kesalahannya saja, demi meringankan hukuman. Sebabnya, sudah ditemukan bukti kuat yang memberatkan: sidik jari darah pada selembar kertas di dalam brankas penyimpanan berlian. Para pakar sidik jari dari Scotland Yard sudah menyatakan jika sidik jari itu milik pemuda malang ini.

Setelah mendengar pemaparan lengkap tentang kronologis pencurian dan menyaksikan tindak tanduk tersangka yang santun, Dr. Thorndyke pun menyanggupi permintaan Reuben. Dibantu oleh kawan lamanya sewaktu kuliah di kedokteran yang sedang lontang-lantung mencari kerja, dr. Jervis, dan asisten pribadinya yang setia, Polton, dr. Thorndyke mulai menyelidik. Bagaimana dr. Thorndyke mementahkan semua kecurigaan dan menyelamatkan muka Reuben di muka publik? Kisah lengkapnya ada dalam The Red Thumb Mark.

Rivalnya Sherlock Holmes

Bagi penggemar kisah detektif klasik, Sherlock Holmes mungkin menjadi favorit. Tapi tidak banyak yang tahu kan, jika Mr. Holmes punya ‘pesaing’ berat yang juga tinggal di London? Detektif itu, sudah kusebut di atas, tidak lain dr. John Evelyn Thorndyke, seorang dokter forensik yang kemudian menjadi barrister (pengacara dengan kemampuan dan pengalaman khusus sehingga diizinkan untuk berargumen di pengadilan tinggi Inggris).

The Red Thumb Mark dikenal sebagai seri pertama dari novel-novel Thorndykean, karena dalam novel inilah dr. Austin Freeman mengenalkan asal usul Dr. Thorndyke. Kasus perdananya yang terkenal dan dibukukan adalah pencurian berlian.

Yang menjadi daya tarik novel ini –juga sebagian besar serial dr. Thorndyke lainnya–, bukan terletak pada pemecahan ‘siapa’ pelakunya, tapi lebih pada ‘bagaimana’ tindak kejahatan itu dilakukan. Karena plot cerita memang dibuat terbalik; di awal, perkiraan siapa pelakunya sudah ditampilkan, kemudian cerita melaju pada upaya sang detektif untuk mengungkapnya. Dalam penyelidikan, selain mencari informan, dr. Thorndyke mengalokasikan sebagian waktunya untuk menginterogasi benda di lab pribadinya. Bisa jadi dr. Thorndyke adalah detektif yang metode penyelidikanya paling ilmiah dan meyakinkan diantara detektif-detektif yang lain.

Cara kerja dr. Thorndyke yang hati-hati, sehingga memerlukan waktu sampai lebih dari seminggu untuk menyelesaikan satu kasus, berpotensi membuat pembaca penyuka alur kencang tidak sabar. Selain itu, gaya penuturan penulisnya yang kering –dalam novel ini penuturnya adalah dr. Jervis–, serius, tanpa basa basi, tanpa selipan humor yang mudah ditangkap, dan minim keromantisan, juga bisa membuat pembaca bosan. Yang semakin membuat pembaca menjauh adalah karakter dr. Thorndyke yang dari luar terkesan serius, tidak ramah, misterius. Tapi, begitu mengenalnya lebih jauh, keramahan dan kecerdasannya akan muncul, malah ada ucapan-ucapannya yang bisa membuat geli. Yea.. dr. Thorndyke itu sangat witty, apalagi saat berbincang dengan dr. Jervis. Malah karakter itu kadang terbawa ke depan sidang pengadilan, seperti pernyataannya setelah mendengarkan kesimpulan dua pakar sidik jari:

“The conclusions of the expert witnesses—manifestly bona fide conclusions, arrived at by individual judgement, without collusion or comparison of results—are practically identical. They are virtually in complete agreement. Now, the strange thing is this: their conclusions are wrong in every instance” (here I nearly laughed aloud, for, as I glanced at the two experts, the expression of smug satisfaction on their countenances changed with lightning rapidity to a ludicrous spasm of consternation); “not sometimes wrong and sometimes right, as would have been the case if they had made mere guesses, but wrong every time.”

Membaca novel ini seperti minum air putih. Tawar, tidak mengandung aneka rasa juga tidak berwarna –yang kadang malah beracun–, tapi tetap bisa melepaskan dahaga.

Download The Red Thumb Mark

Advertisements

2 Comments

  1. selamat membaca! (pasti sudah balik dari tkp) hehe…
    dr thorndyke pernah difilmkan oleh bbc pada tahun 70an, yg menjadi bagian pertama dari serial ‘the rivals of sherlock holmes’. yg dibuat film bukan the red thumb mark ini, tapi ‘a message from the deep sea’. sayangnya, di situ karakter thorndyke terkesan sangat arogan dan semena2 pada orang2 di sekitarnya, beda dari penggambaran dalam beberapa novelnya yg sudah sempat saya baca..
    kalo pingin lihat, silakan cari di youtube.

  2. waaaaaaaaah…
    kl di film kan juga kayaknya seru nih.. hehehee
    izin sedot The Red Thumb Marknya..


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: