Skip navigation

Salah satu pemberitaan yang cukup sering ditayangkan di televisi adalah serangan sakit perut akut atau diare mendadak yang dialami oleh sejumlah orang dalam waktu hampir bersamaan. Kejadiannya tidak lama setelah mereka menyantap hidangan dalam resepsi pernikahan. Seingatku pemberitaan sejenis itu sudah cukup sering, dan lagi-lagi, kasusnya diserahkan ke pihak kepolisian.

Biasanya juga, dugaan yang dilempar adalah sakit perut itu akibat keracunan makanan karena bermasalah dalam pengolahannya—bisa karena kurang bersih, atau apalah..tapi yang jelas sih, seingatku belum pernah ada tindak lanjut dari penyelidikan seperti ini yang ikut disiarkan di tv.

Kalau  di daerahku, peristiwa sakit perut yang diikuti diare masal setelah pulang dari pesta pernikahan sudah biasa terjadi. Bahkan, pernah ada orang yang harus pulang sebelum acara kelar kerena tidak sanggup menahan perut yang terasa melilit. Bedanya, umumnya masyarakat sini sudah terbiasa dan bisa maklum, karena itu tidak perlu polisi dipanggil untuk turun tangan, atau tes makanan di lab. Sebabnya mereka tahu dan yakin jika keracunan seperti itu adalah efek dari sangkrip yang dipesan oleh pemilik hajat.

Yang kutahu, sangkrip adalah sejenis doa, atau lebih tepatnya, mantra tolak bala, ritual tertentu lengkap dengan sesajen khusus yang ditujukan agar hajatan itu punya tameng yang melindunginya dari segala bahaya yang merintangi acara pernikahan. Jika sangkripnya tepat, efek yang dihasilkan akan bagus, misalnya, seluruh pekerja di dapur tidak akan merasa mengantuk selama pesta berlangsung, biasanya dua hari. Kalau sangkripnya tidak terlalu bagus, maka dampak yang paling umum ya terjadilah sakit perut berjama’ah. Selama kepercayaan pada tolak bala dengan cara memasang sangkrip masih dipelihara, hampir bisa dipastikan kalau peristiwa mengenaskan seperti itu akan terus berulang.

Sejatinya, diare, dengan gejala perut  yang melilit dan buang air besar di luar kebiasaan, adalah suatu bentuk pertahanan tubuh untuk menghalau bakteri, kuman, dan virus perusak yang mendekam dan ‘bermain-main’ di wilayah usus besar. Dalam Tabloid Bekam Edisi 11, disebutkan kalau penyebab diare itu terkait dengan 5 hal:

1.       Kebersihan

Lalai menjaga kebersihan badan, pakaian, makanan, dan lingkungan bisa memicu diare. Tubuh kumal dan lingkungan yang jorok mempermudah penumbuhsuburan mikroorganisme pemicu diare. Selain itu, tempat-tempat yang kotor juga menjadi lokasi favorit setan berkeliaran.

2.       Makanan dan minuman buruk

Yang dimaksud adalah makanan dan minuman yang miskin atau bahkan tidak memiliki nilai gizi, seperti makanan olahan yang lazimnya mengandung bahan tambahan makanan seperti pengawet, pewarna, dan perisa sintetis. Apalagi jika bahan tambahannya berupa formalin, boraks, dan pestisida, penghancuran usus besar akan menjadi sangat efektif.

Junkfood itu sendiri berdampak buruk bagi pencernaan dan kolon, karena bisa mencederai usus besar sehingga bakteri perusak dan virus bersarang di dalamnya. Kerja pengeluaran kotoran pun menjadi lebih berat, dan perlu dilakukan secara berulang, alias diare. Yang lebih repot, jika penderitanya adalah bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih lemah, bahayanya akan berlipat.

3.       Kerusakan usus besar

Tugas utama usus besar adalah mengolah limbah sisa makanan dengan cara memisahkan kandungan air yang sarat vitamin K dan B dan sisa makanan. Kalau organ ini rusak, tentu kerja pengolahan makanan paling ujung ini akan terganggu. Selain itu juga menurunkan kemampuannya dalam melumpuhkan bakteri jahat dan virus.

Usus besar bisa rusak karena adanya sisa makanan dan minuman yang melekat di dindingnya, bahkan kadang sampai membentuk kerak. Dengan begitu, organ yang  lembut ini akan cedera. Pola hidup dan pola makan yang serampangan punya andil besar dalam kerusakan usus ini. Apalagi, jika ditunjang dengan kemalasan merawat usus besar dengan asupan bergizi, alami, dan Islami.

4.      Lalai membaca doa

Doa memberi perlindungan dari segala keburukan yang masuk ke perut . Terlupa berdoa sebelum dan sesudah makan atau minum memberi peluang bagi bibit penyakit untuk menyusup ke dalam tubuh. Kalalaian ini juga menjadi titik lemah yang dimanfaatkan setan untuk mengganggu manusia yang seolah tidak berhalang.

5.       ‘Ain dan stress

‘Ain adalah pandangan mata jahat yang dilakukan pendengki atau akibat sihir (jin ). Bayi sangat rentan dengan gangguan ini, karenanya, menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjaganya dengan doa. Stress, kondisi jiwa yang tertekan, gelisah, jengkel tak berkesudahan, takut, dan lainnya bisa memicu pergerakan usus menjadi lebih cepat atau lambat.

Nah, jika percepatan yang terjadi, pengeluaran limbah juga semakin cepat dan berujung diare. Jika usus besar terlalu lamban, sisa makanan akan menumpuk di sana lalu menimbulkan pembusukan dan pengerasan, sehingga menjadi tempat bibit penyakit bersarang. Selain memicu diare, stress bisa juga menyebabkan sembelit akibat ketegangan yang ditimbulkannya membuat usus besar kekurangan energi, karena sudah keburu dikuras oleh otak.

Kelima pemicu diare di atas sedikit banyak telah menjawab misteri sangkrip yang selama ini tidak kutemukan penjelasannya. Diare terkait erat dengan aktivitas, mental, emosi, dan fisik.

Yang paling bagus pastilah melakukan pencegahan. Sekiranya kebersihan makanan dan minuman di luar kendali, seperti di acara pernikahan, menjaga adab makan dan menjaga kesehatan diri sendiri adalah keharusan.

Advertisements

2 Comments

  1. makasih… percaya tidak percaya memang begitu keadaannya..

  2. waaaaaaah.. beritanya unik….

    semangat ya violetcactus eh Ema maksudnya…..


Silakan berkomentar ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: